18 Februari 2014

Mencukupkan Diri

“kok, saya heran ya,, apa saya aja yang salah program, atau ga memaksakan diri buat cari uang banyak biar bisa liburan kemana gitu,,Ngeliat foto temen-temen kok rasanya gampang banget ya pergi. Ya padahal kita tau, gajinya ga seberapa, ya gatau juga sih dibalik itu”

Kalimat-kalimat diatas keluar dari  mulut suami saya, dan saya cuma bisa ketawa geli aja. Iya ketawa karena lucu. Pasalnya dia sampai saat kemarin itu, ga pernah mempertanyakan dirinya sendiri kenapa dia menjadi tidak berambisi terhadap materi, maksudnya materi yang buat digunakan bersenang-senang. Yaentah itu keluar negeri, atau keluar kota untuk nyicip nyicip hal baru, atau bahkan di dalam kota yang sifatnya “baru”. Lagipula saya juga bukan tipe yang suka jalan-jalan yang datang kesuatu tempat , ambil foto sama tempat yang didatengin, kemudian merasa senang seolah olah ga ada beban yang dipikir saat liburan, dan kembali plong setelah itu. Bukan jalan-jalan dalam arti begitu yang saya suka. Jalan-jalan/bepergian, selalu saya artikan sebagai sarana refleksi diri dan refleksi keagungan Tuhan.  Tujuan satu dari jalan-jalan adalah: bisa kembali dengan selamat. 

Yah terlepas apa itu jalan-jalan, kembali ke kalimat awal yang suami saya bilang. Iya bisa dibilang kami jarang menyengajakan diri buat mengosongkan waktu untuk pergi ke tempat wisata –sebut saja begitu. Pun dengan uang untuk kegiatan semacam itu. Dia sempet bilang, “kemana aja ya uang kita selama ini?kok kayanya ga ngehasilin apa-apa?ga pernah kemana-mana juga”. Tapi sesaat itu juga saya bantah kalimat dia dengan bilang bahwa kita berada dalam keadaan sehat jasmani dan rohani saat ini, itu merupakan hasil.  

Oke, sebut saja ketika pulang dari Jepang dua tahun lalu. Dengan sejumlah uang hasil menabung, maka kami punya daftar rencana akan digunakan untuk apa saja uang itu. Saat itu, rangga belum dapat gaji berkala dari kerjaan, saya juga dapat penghasilan yang cukup untuk operasional saya sendiri selama sebulan. Namun, siapa diduga,di akhir tahun kepulangan ke Indonesia itu, saya harus menjalankan operasi juga pengobatan pasca operasi yang makan sejumlah uang dari tabungan itu, yang cukup lah buat bayar DP mobil kalo kami mau.  Habis tabungan kami. Kami saat itu, sama sekali tidak merasa kekurangan sedikit apapun, kami bersyukur karena Allah SWT selalu punya rencana lebih baik.Karena ga lama setelah itu, Allah SWT kasih rezeki lewat jalan lain dan dalam bentuk lain.

Juga untuk laptop saya yang waktu itu kena musibah, laptop yang selalu digunakan buat kerja sehari-hari terkena air akibat ulah kecerobohan saya. Ya salahkan manusia, tapi mesti pandai juga ambil  hikmah.  HIkmahnya adalah saya jadi kembali ngobrol sama si mamah tanpa harus pegang laptop, karena sebelum laptop saya itu mati, hampir setiap diajak ngobrol sama mamah, pasti saya juga sedang melakukan aktivitas lain dengan laptop. Bahkan saya sempet berpikir bahwa di hati kecil si mamah ada rasa syukur ketika laptop saya bermasalah dan pada akhirnya dia bisa ngobrol focus sama saya. Awalnya saya dongkol dengan ulah saya dan mikir lagi untuk ngumpulin uang beli laptop baru. Lalu saya ditegur, “baru juga kehilangan benda, bukan nyawa!”. Yes, tertohok. Akhirnya saya lupakan kejadian laptop itu tanpa ada rasa sesal.  Dan beberapa bulan kemudian, Alhamdulillah doi dapet bonus dari kantornya yang ga pernah diduga, dan akhirnya laptop baru dibeli juga (laptop baru buat dia, yang doi diwarisi ke aye). Karena  Allah ingin melihat bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian yang menimpa kita.

Juga kejadian kemarin, dimana handphone yang baru dipakai empat bulan saja, harus bernasib mandi di mesin cuci. Tidak biasanya rangga nyimpen hape dia di saku celana,biasanya sudah dia keluarkan seluruh isi di saku sebelum ganti pakaian. Tapi memang sudah harus terjadi, jadi ya terjadilah. Tinggal pinter-pinternya kita ngambil hikmah. (salah satu hikmah adalah si doi ga perlu sering sering cek hape lagi buat maen game Battle Camp,,hohoho *evilsmirk* eh, tobat ah. Sama perlu mempersiapkan diri , hati, dan kocek kalo ternyata si hape rusak dan mesti batalin kontrak dan bayar sejumlah uang untuk pemutusan kontrak dan sisa cicilan). Ya mungkin Allah lagi menguji kita dengan kejadian ini.

Juga termasuk masalah keturunan. Pernah suatu malam saya tanya sama doi tentang “gimana jika memang Allah tidak menitipkan anak lewat saya?”. Jawabannya sih ga usah di bahas lah ya, privasi itu mah. Buat saya, untuk bisa berani bertanya tentang itu butuh kekuatan besar (lebay kan!). Eh beneran loh! Bukannya setiap perempuan ingin merasakan melahirkan? bukannya setiap perempuan ingin merasakan jadi seorang ibu kandung? Saya juga begitu, tidak dipungkiri. Bukannya setiap pasangan menginginkan keturunan? Tapi kenyataannya, kami belum dititipkan Allah. Lalu apa yang saya lakukan? Stres pasti ada masanya, terutama pada perempuan. Namun kami berusaha untuk menguatkan diri kami, bahwa Allah ga pernah salah kasih keputusan. That’s all.  Akan ada hikmah dibalik semuanya.

Kemudian dari beberapa kejadian saya merenungi. Saya yakin, bahwa harta melimpah itu bukan parameter kebahagiaan. Dalam islam jelas sudah disebutkan bahwa yang namanya harta: materi, anak, isteri, kerjaan, adalah kesenangan dunia yang jangan sampai kita terlena dengan itu. Dimana kesenangannya dunia itu cuma sepanjang jari doang *ngutip dari Ust. Salim Filah*. Kami sekarang memang tak punya  tabungan banyak, belum ada yang namanya investasi (rumah, mobil, dan harta lainnya), belum ada keturunan. Tapi apa yang kami punya sampai saat ini, rasanya tidak bisa dibandingkan dengan harta sebanyak apapun. Allah selalu kasih rizki yang cukup. Karena itu doa kami, dicukupkan dan diberkahkan. Bukannya kata Ust. Aam itu rezeki adalah yang kita pakai saat ini, yang kita gunakan saat ini, yang kita makan saat ini. Itu rezeki. Yang belum kita sentuh, bisa jadi itu bukan rezeki kita. Jika kami sedang butuh dan Allah menyetuji maka dengan jalan cara apapun dan dalam bentuk apapun Allah akan ngasih. Jika kami kelebihan,  Allah menjaga kami dari kegelisahan memiliki harta dengan mengambilnya dengan cara yang ga bisa kita kira. Jadi ya, cukup. Itu sih kuncinya. Merasa cukup, merasa bahagia, bersyukur dengan yang ada dan yakin akan Allah Sang Pemberi Rezeki tidak akan pernah tertukar dalam menghidupi ciptaanNya.

Oiya, disini, bukan berarti kami menjadi orang yang pasrah dalam artian menerima keputusan Tuhan gitu aja. Jelas engga. Allah juga menuntut usaha dari kita, kita harus sadar itu. Perencanaan dari manusia tetap perlu ada, agar segala sesuatu nya tetap selalu ada dalam trek yang benar . Kita berencana, kita juga yang mempersiapkan diri untuk akhirnya,  karena Allah yang akan memutuskan apakah perkara yang kita rencanakan itu baik atau tidak baik untuk kita. Kita cuma butuh syukur dan sabar.

Oiya satu lagi, hindarkan diri dari membandingkan dengan orang lain, heu. Penyakit bahaya itu. Karena jelas kebutuhan setiap individu pasti beda, jadi jelas tak ada yang pantas dibandingkan. Kecuali jika memang orang yang dibandingkan akan meningkatkan kualitas keimanan kita terhadap Allah. *saya juga masih harus berjuang keras melawan sikap kaya gini*

3 komentar:

  1. Indah,, yg terakhir "ngena" banget. Membandingkan diri dengan orang lain memang susah ya ^^
    Yosh, atashi mo ganbarimasu :D

    BalasHapus