09 Juni 2011

buang sampah pada harinya

Kertas kertas bertuliskan peringatan "Buanglah sampah pada tempatnya!" sudah ga berlaku lagi, yang lebih penting adalah "Buanglah sampah pada waktu yang tepat!". Perkara menyuruh buang sampah pada tempatnya memang bukan masalah lagi bagi orang Jepang. Secara otomatis, orang-orang Jepang akan membuang sampah jelas pada tempat yang disediakan. Namun jarang juga ditemukan tong sampah di tengah kota/tempat umum, maka jalan yang diambil adalah membawa kembali sampah-sampah (kecil/besar) untuk dibuang di rumah. Sistem pembuangan sampah memang pada awalnya memang terasa membingungkan, mesti dipilah, dicuci terlebih dahulu, dan dibuang ke tempat pengumpulan sampah pada hari yang telah ditetapkan. Terutama bagi orang asing, mungkin ada yang merasa hal itu menyusahkan.

Bagi saya, selain merupakan aturan yang perlu diikuti, pembuangan sampah dengan cara memilahnya memang bagian dari suatu proses panjang perjalanan pengolahan sampah agar meminimalisir limbah yang dihasilkan, meningkatkan kembali nilai guna dari sampah, atau bisa macam2. Intinya mah demi lingkungan kita juga. Dulu di Fuchu, pemilahan sampah dibedakan dari plastik yang digunakan. Jangan anggap menghasilkan sampah adalah kegiatan gratis, tidak demikian. Karena pengolahan sampah pun butuh biaya, maka beban keuangan pun sedikit dibebankan pada masyarakat dengan cara masyarakat membeli kantong kantong plastik yang sudah disediakan pemerintah kota setempat. Di beberapa kota di Jepang memang menerapkan sistem semacam itu, namun bayak juga yang tidak. Semua tergantung dari jenis/sistem pengolahan sampah di masing2 kota.

Pembuangan sampah di Jepang, khususnya di tempat yang pernah saya tinggali, tidak bisa dilakukan seenak hati kita. Walaupun sampah terbakar/busuk sudah penuh, namun jika bukan hari nya untuk buang sampah, jangan harap bisa membuangnya, kecuali anda tidak tahu diri. Pernah suatu hari ketika baru pindah ke tempat baru ini, saya masih lupa jadwal buang sampah. Hari itu jam 8.30 saya baru keluar buat buang sampah busuk, da baru inget tea. Namun si truk sampah baruuuuu aja pergi. Tadinya saya mau pura-pura aja gak tau kalo si truk sampah udah pergi dan naro si sampah disitu, eh taunya ada nenek pemilik barber shop yang tinggal di bawah kamar saya keluar dan bilang, "Hey hey, udah pergi mobilnya, ga boleh ya buang disitu, besok-besok lebih pagi kalo mau buang sampah!". Saya cuma bisa nyengir dan ngangguk2. Tapi untungnya si truk sampah berhenti sekitar 30 meter dari tempat pembuangan sampah depan rumah saya. Berlarilah saya demi mengantar sekantong sampah.

Masalah sampah memang hal yang sensitif disini. Salah salah naro sampah walaupun di depan pintu rumah sendiri, bisa menjadi masalah di lingkungan sekitar tempat kita tinggal. Pernah juga di pagi hari saya dengar pemilik barber shop itu sedang ngobrol dengan tetangga lain. Kala itu saya baru saja membuang dua kantong gede sampah plastik, memang jadwal hari Kamis untuk sampah plastik. Si pemilik barber shop yang juga orang yang bertanggung jawab untuk masang jaring-jaring sampah di pagi hari nampak mengeluh pada si tetangga, katanya ada orang yang membuang sampah membusuk bukan pada waktunya. Karena di hari untuk sampah tidak membusuk biasanya jarang diberi jaring (jaring berguna untuk melindungi sampah dari srerangan burung gagak yang suka ngacak-ngacak), maka sampah busuk yang dibuang tidak pada harinya, suka dijadikan target empuk burung untuk ngacak2. Tentu saja yang membereskannya adalah si nenek barber shop. Karna kita ga bisa tau kan itu sampah dari rumah yang mana.

Saya dan si aa suka jadi deg-deg an kalo gitu, takut2 kita yang melakukan kesalahan, kita selalu memastikan hari ini hari apa dan sampah apa yang dibuang di hari ini. Begitu setiap hari.
Ketiga penghuni di tempat saya tinggal ini adalah orang asing, dan nampaknya mereka sedikit tidak perhatian untuk masalah ini. Kenapa saya bisa ngomong begitu? karena satu tetangga saya memang jarang di rumah, dia lebih banyak menghabiskan waktu di lab, makanya sampah yang dia hasilkan di rumah kadang dia bawa ke kampus untuk dibuang disana, selain gak terlalu banyak juga karna dia ga ngerti jadwal pembuangan sampah yang ditulis dengan bahasa Jepang. Sedangkan tetangga lain, yang sudah berkeluarga, yang sudah bisa dipastikan penghasilan sampah nya banyak, kerap membuang sampah tidak tepat hari. Bersyukur suatu hari pemilik rumah kedapatan menemukan tetangga saya yang hendak membuang sampah yang tidak sesuai dengan jadwal. Alasannya yang dia kemukakan karena dia gak tau kalau ada jadwalanya. Menurut kami sih gak tau, ya karena gak dicari tahu.

Yah, seperti itulah. Setiap pagi harus sigap mengingat sampah mana yang akan dibuang di hari ini. Kalau bisa dari malem ingetnya, kalau bisa dari pagi ngebuangnya (ini tugas si aa). Ya kita kan hanya "tamu" di negeri ini. Kalau kata aa sih, bagi orang Jepang akan sulit melihat sisi baik orang asing yang ada di negerinya. Karena jika kita berbicara masalah kelakuan ,sopan santun, terbukti orang Jepang memang labih santun dibanding bangsa manapun. Jika kita berbicara masalah teknologi, jelas Jepang memiliki semua teknologi yang dimiliki negara barat. Jadi ya, seperti pepatah "dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung". Jalan keluarnya, mengikuti aturan, kebiasaan, apa yang orang Jepang lakukan (diluar hal-hal yang sifatnya prinsipil).

1 komentar:

  1. iyaaaa, apartemen saya jg sempet dapat peringatan karena banyak yang buang samapah tidak pada harinya.

    sebel saya mah, padahal pengumuman jadwalnya jelas ditempel di pintu ruang sampah (ruang sampahnya kaya kamar berbentuk kotak besi gede gitu), walaupun pk bahasa jepang tapi kan ada penjelasan grafis yg gampang dimengerti.

    emang ga mau merhatiin aja itu mah. *loh jd suudzon, haha*

    BalasHapus