- peluang bisnis yang ternyata masih banyak banget lapaknya
- pengetahuan jalan-jalan di dalam Jepang dengan menggunakan fasilitas untuk turis, dimana fasilitas tersebut sangat membantu dalam hal keuangan (kanro pass, hakone pass, JR pass, subway pass, dan pass yang lainnya)
- ketemu macem-macem orang dan belajar untuk sabar menghadapinya
- menjadi agen transfer budaya, maksudnya apa-apa yang menjadi kebiasaan orang Jepang perlu disampaikan ke para turis sehingga setiap turis bisa mengikuti pribahasa "dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung"
- Pentingnya olahraga untuk ngejaga stamina tubuh pada saat jalan-jalan, terutama betis. hohohoho
23 April 2014
Jadi Tour Guide
Beberapa minggu lalu saya dapat tawaran dari teman saya pemilik Trip Jepang untuk menjadi seorang guide dari klien nya. Dari pengalaman sebentar dan singkat, saya banyak mengambil hikmahnya :
22 April 2014
Buka lapak baru
Sehubungan dengan hobi yang mulai diseriusi, maka saya buka lapak blog baru yang isinya tentang jahit menjahit yang saya lakoni hingga saat ini. Semoga lebih terarah lah itu hobi saya ya.. hehehehe, biar ada mangpaatnya buat saya, juga buat orang lain.
07 April 2014
bukan kampanye
Alhamdulillah, edisi pemilunya luar nagrek udah selesai dari 3 hari yang lalu. Eits, tapi katanya sih perhitungan suara tetep dilakukan di tanggal 9 April. Alhamdulillah yang kedua adalah Bapak Rangga akhirnya mencoblos juga. Mungkin akan beda kondisinya kalau kita masih di Bandung, dimana nama Rangga A.S itu ga ada dalam daftar pemilih tetap. Jadi bersyukur ada satu suara yang ga sia-sia. Saya sih, tipikal yang selalu ikut Pemilu sejak 2009. Dari mulai walkot, gubernur, legislatif, sampai presiden. Awalnya memang saya bingung ya untuk milih langsung calon pemimpin itu. Pertama karena ga kenal, kedua karena fokus waktu itu lebih ke aktifitas kampus, dan juga karena media media kadang malah membuat kita semakin sulit unutk memilih, dengan adanya kecondongan satu pihak sehingga berita pun dibuat jadi ga netral. Belum lagi, usia-usia awal memilih 17-20 an juga masih sepi untuk tertarik sama politik. Yang penting yang dikenal siapa, baik itu orang dekat lah, tetangga lah, tokoh masyarakat lah, atau sekedar menurut kata pemimpin kelompoknya siapa, itulah yang dipilih. Tinggal berdoa aja yang dijadikan sumber suaranya adalah orang yang memang mampu untuk mempublikasikan calon-calonnya (yang memang baik). Tapi kalau promotor nya aja promosi pake cara ga cerdas (baca: bagi-bagi duit atau ancaman dsb), yowess,wassalam.
Saya suka banget bukunya Pandji yang nasional.is.me. Di buku itu pikiran kita berasa diacak-acak. Berasa dibawa masuk sama kata-katanya dia, disadarkan bahwa kita ini hidup ga mungkin ga berkaitan sama politik. Karena pemilu menjadi corong untuk munculnya kebijakan-kebijakan yang akan menjadikan kita nyaman atau tidak nyaman dalam menjalani kehidupan. Cukup menurut saya alasan tersebut untuk orang yang baru ketemu sama politik dan ga mau terlibat penuh didalamnya. Intinya pengen nyaman kan? nah tinggal buat parameter nyaman seperti apa yang diinginkan, dan kaitkan lah dengan sepak terjang si calon-calon yang ada.
Saya sungguh kaget ketika tahun lalu di Bandung, ketika itu selepas pemilu gubernur Jawa Barat, saya bertemu dengan kawan-kawan SMA. Dan ketika saya tanya tentang masalah pemilu itu, jawaban mayoritas dari mereka sangat simpel "Hahahaha, aku sih taunya cuma si A, si B dan si C siapa ya? itu juga milih A baru kepikiran karena familiar mukanya". "aku sih coblos asal-asalan", "aku sih coblos ketiga mukanya"..Hmmmm.. iya sih, saya juga ga begitu kenal banget sama semua calonnya saat itu, ya minimal saya pernah tanya ke orang lain tentang calon-calon tersebut ke seseorang yang membuat referensi pengetahuan tentang si calon jadi nambah. Yang saya sayangkan itu sebenernya, kenapa orang seperti kita, yang sudah merasakan manisnya pendidikan, manisnya internet, manisnya media sosial, dan segala bentuk manisan lainnya, masih juga asal-asalan dalam pemilu. Ada yang bilang bahwa karena tidak ada calon yang baik jadi lebih baik golongan putih lah, padahal alasan sebenernya karena kita malas cari tau. Malas untuk sekedar nyoblos seseorang yang ga dikenal. Baru deh nanti pas udah makin semrawut negeri kita ini, ocehan, keluhan terhadap orang-orang yang ga mampu tapi duduk dipemerintahan. Janganlah say...
Bukan jamannya lagi kita kebawa iklannya kedai kopi mahil yang ngasih minum kopi gratis kalau kita nunjukkin jari kita ada tinta ungunya pertanda kita udah berperan dalam pemilu, atau segala macam bentuk hadiah lainnya. Engga lah. Pengunjung yang datang ke kedai itu pasti orang yang berada di kelas menengah ke atas, yang rata-rata berpendidikan, mestinya kesadaran untuk menjadi rakyat yang baik lebih berharga dibandingkan segelas kopi gratis. Kesadaran bahwa pemimpin itu tergantung rakyatnya, adalah kesadaran yang harus dimiliki setiap rakyat.
Saya suka banget bukunya Pandji yang nasional.is.me. Di buku itu pikiran kita berasa diacak-acak. Berasa dibawa masuk sama kata-katanya dia, disadarkan bahwa kita ini hidup ga mungkin ga berkaitan sama politik. Karena pemilu menjadi corong untuk munculnya kebijakan-kebijakan yang akan menjadikan kita nyaman atau tidak nyaman dalam menjalani kehidupan. Cukup menurut saya alasan tersebut untuk orang yang baru ketemu sama politik dan ga mau terlibat penuh didalamnya. Intinya pengen nyaman kan? nah tinggal buat parameter nyaman seperti apa yang diinginkan, dan kaitkan lah dengan sepak terjang si calon-calon yang ada.
Saya sungguh kaget ketika tahun lalu di Bandung, ketika itu selepas pemilu gubernur Jawa Barat, saya bertemu dengan kawan-kawan SMA. Dan ketika saya tanya tentang masalah pemilu itu, jawaban mayoritas dari mereka sangat simpel "Hahahaha, aku sih taunya cuma si A, si B dan si C siapa ya? itu juga milih A baru kepikiran karena familiar mukanya". "aku sih coblos asal-asalan", "aku sih coblos ketiga mukanya"..Hmmmm.. iya sih, saya juga ga begitu kenal banget sama semua calonnya saat itu, ya minimal saya pernah tanya ke orang lain tentang calon-calon tersebut ke seseorang yang membuat referensi pengetahuan tentang si calon jadi nambah. Yang saya sayangkan itu sebenernya, kenapa orang seperti kita, yang sudah merasakan manisnya pendidikan, manisnya internet, manisnya media sosial, dan segala bentuk manisan lainnya, masih juga asal-asalan dalam pemilu. Ada yang bilang bahwa karena tidak ada calon yang baik jadi lebih baik golongan putih lah, padahal alasan sebenernya karena kita malas cari tau. Malas untuk sekedar nyoblos seseorang yang ga dikenal. Baru deh nanti pas udah makin semrawut negeri kita ini, ocehan, keluhan terhadap orang-orang yang ga mampu tapi duduk dipemerintahan. Janganlah say...
Bukan jamannya lagi kita kebawa iklannya kedai kopi mahil yang ngasih minum kopi gratis kalau kita nunjukkin jari kita ada tinta ungunya pertanda kita udah berperan dalam pemilu, atau segala macam bentuk hadiah lainnya. Engga lah. Pengunjung yang datang ke kedai itu pasti orang yang berada di kelas menengah ke atas, yang rata-rata berpendidikan, mestinya kesadaran untuk menjadi rakyat yang baik lebih berharga dibandingkan segelas kopi gratis. Kesadaran bahwa pemimpin itu tergantung rakyatnya, adalah kesadaran yang harus dimiliki setiap rakyat.
31 Maret 2014
4 bulanan
Bismillahirrahmanirrahiim
walau saya ga tau harus nulis apaan, tapi rasanya pengen nongol di laman ini.
Bukan empat bulanan hamil. (belum empat bulan, belum juga sebulan, belum juga tau hamil atau engga, lagian acara 4 bulanan mah kaga ada contoh dari Rasullullah SAW)
Maksudnya sekarang udah mau memasuki bulan keempat di Jepang ini. Rasanya udah rindu lagi sama suasana di rumah Bandung. Tapi rindu yang ini cukup dititipkan ke Allah SWT supaya orang-orang tercinta disana selalu dalam lindungan Tangan Allah SWT.
Apa yang mau ditulis? tetot !! sudah dua kali (kalo sekali lagi nanti berenti nulisnya - macem kuis famili 100 nya Sony Tulung deh)
Oiya jadi inget beberapa hal,
Pertama, saya kirim kartu pos buat murid saya kurang lebih tiga pekan lalu. Kartu pos yang saya janjikan untuk dikirim ke dia kalau saya sudah di Jepang, dan sebagai gantinya dia juga harus kirim balik ke saya. Saya minta dia kirim balik, karena dia bilang belum pernah sama sekali kirim sesuatu lewat kantor pos. Oleh karena itulah, saya meminta dia kirim kartu pos dari Indonesia. Nasib kartu pos saya belum sampai hingga hari ini. Saya ga bisa cek juga, karena kemarin kirim pake layanan surat standar, bukan yang khusus pengiriman luar negeri dengan harga yang ajib. Bisa jadi dua, eh tiga alasan yang saya pikirkan. Pertama, memang si kartu pos masih dalam perjalanan, kedua karena tidak adanya kotak surat di rumah modern saat ini sehingga si pak pos bingung mau masukin kemana. Kalaupun diselipin di pintu pager bisa saja diterpa hujan yang sering datang di Bandung. Hemmm.. yang ketiga, rada subjektif sih, rada pesimis sama sistem layanan pos di Indonesia. heu, maaf maaf.
Ketika saya tahu mantan siswa saya belum pernah berinteraksi sama kantor pos, saya sebenernya cukup kaget. Memang di jaman sekarang, segala sesuatu lebih mudah karena ada internet. Mau kirim sekedar kabar/pesan bisa pakai sambungan telepon seluler atau internet. Lingkungan mereka terbiasa dengan perangkat elektronik untuk kehidupan mereka, sehingga mungkin dirasa tidak perlu untuk mengetahui apa itu pos. Saya jadi inget, bahkan di jaman saya SMP, di kala telegram sudah banyak ditinggalkan, guru Bahasa Indonesia saat itu memberikan materi tentang bahasa dalam telegram dan bagaimana cara kita berkirim pesan lewat telegram, saat itu kami satu kelas berbondong-bondong ke kantor pos cabang yang besarnya seuprit bahkan perlu dicapai pake angkot. Buat saya itu pengalaman yang berkesan, soalnya telegram itu ada batas karakter hurufnya dan penulisannya pun disingkat singkat, jadi kebayang orang jaman dulu bulak-balik berkirim telegram karena pesannya tetiba putus akibat kehabisan karakter.
Saya menyadari, bahwa yang namanya pendidikan juga berkembang, sesuai jaman yang sedang dijalani. Apa yang diberikan dari sekolah, perlunya disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang terjadi di luar. Dan yang lebih penting sih, bagaimana si sekolah bisa membentuk siswanya agar terbuka, selektif, dan adaptif terhadap segala bentuk perubahan yang terjadi. Kaitannya dengan si pos gimana nih? Hahaha, ga bisa jawab si sayah. Saya cuma mau bilang sih, setidaknya pengenalan terhadap masa lalu yang menghasillkan teknologi saat ini perlu disampaikan. Supaya, penghargaan dan rasa syukur terhadap sesuatu itu hadir. Memang ga semua hal perlu begitu, tapi masalahnya badan pos di Indonesia itu masih ada sehingga jangan sampai anak-anak muda sekarang lebih tau dan ngerti nulis email pake gmail atau yahoo dibanding nempel perangko diatas amplop terus masukin ke bis surat. Atau jangan jangan memang udah pada ga tau ya apa itu bis surat? Pos Indonesia itu masih hidup, masih bisa jadi perusahaan dalem negeri yang berkembang, dan kalau bukan sama anak negerinya, sama siapa lagi dia berkembang? heup ah.
Katanya ada beberapa hal ya yang diinget, tapi inget satu hal aja jadi kemana-mana ekornya. Mari disambung lain kali deh.
walau saya ga tau harus nulis apaan, tapi rasanya pengen nongol di laman ini.
Bukan empat bulanan hamil. (
Maksudnya sekarang udah mau memasuki bulan keempat di Jepang ini. Rasanya udah rindu lagi sama suasana di rumah Bandung. Tapi rindu yang ini cukup dititipkan ke Allah SWT supaya orang-orang tercinta disana selalu dalam lindungan Tangan Allah SWT.
Apa yang mau ditulis? tetot !! sudah dua kali (kalo sekali lagi nanti berenti nulisnya - macem kuis famili 100 nya Sony Tulung deh)
Oiya jadi inget beberapa hal,
Pertama, saya kirim kartu pos buat murid saya kurang lebih tiga pekan lalu. Kartu pos yang saya janjikan untuk dikirim ke dia kalau saya sudah di Jepang, dan sebagai gantinya dia juga harus kirim balik ke saya. Saya minta dia kirim balik, karena dia bilang belum pernah sama sekali kirim sesuatu lewat kantor pos. Oleh karena itulah, saya meminta dia kirim kartu pos dari Indonesia. Nasib kartu pos saya belum sampai hingga hari ini. Saya ga bisa cek juga, karena kemarin kirim pake layanan surat standar, bukan yang khusus pengiriman luar negeri dengan harga yang ajib. Bisa jadi dua, eh tiga alasan yang saya pikirkan. Pertama, memang si kartu pos masih dalam perjalanan, kedua karena tidak adanya kotak surat di rumah modern saat ini sehingga si pak pos bingung mau masukin kemana. Kalaupun diselipin di pintu pager bisa saja diterpa hujan yang sering datang di Bandung. Hemmm.. yang ketiga, rada subjektif sih, rada pesimis sama sistem layanan pos di Indonesia. heu, maaf maaf.
Ketika saya tahu mantan siswa saya belum pernah berinteraksi sama kantor pos, saya sebenernya cukup kaget. Memang di jaman sekarang, segala sesuatu lebih mudah karena ada internet. Mau kirim sekedar kabar/pesan bisa pakai sambungan telepon seluler atau internet. Lingkungan mereka terbiasa dengan perangkat elektronik untuk kehidupan mereka, sehingga mungkin dirasa tidak perlu untuk mengetahui apa itu pos. Saya jadi inget, bahkan di jaman saya SMP, di kala telegram sudah banyak ditinggalkan, guru Bahasa Indonesia saat itu memberikan materi tentang bahasa dalam telegram dan bagaimana cara kita berkirim pesan lewat telegram, saat itu kami satu kelas berbondong-bondong ke kantor pos cabang yang besarnya seuprit bahkan perlu dicapai pake angkot. Buat saya itu pengalaman yang berkesan, soalnya telegram itu ada batas karakter hurufnya dan penulisannya pun disingkat singkat, jadi kebayang orang jaman dulu bulak-balik berkirim telegram karena pesannya tetiba putus akibat kehabisan karakter.
Saya menyadari, bahwa yang namanya pendidikan juga berkembang, sesuai jaman yang sedang dijalani. Apa yang diberikan dari sekolah, perlunya disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang terjadi di luar. Dan yang lebih penting sih, bagaimana si sekolah bisa membentuk siswanya agar terbuka, selektif, dan adaptif terhadap segala bentuk perubahan yang terjadi. Kaitannya dengan si pos gimana nih? Hahaha, ga bisa jawab si sayah. Saya cuma mau bilang sih, setidaknya pengenalan terhadap masa lalu yang menghasillkan teknologi saat ini perlu disampaikan. Supaya, penghargaan dan rasa syukur terhadap sesuatu itu hadir. Memang ga semua hal perlu begitu, tapi masalahnya badan pos di Indonesia itu masih ada sehingga jangan sampai anak-anak muda sekarang lebih tau dan ngerti nulis email pake gmail atau yahoo dibanding nempel perangko diatas amplop terus masukin ke bis surat. Atau jangan jangan memang udah pada ga tau ya apa itu bis surat? Pos Indonesia itu masih hidup, masih bisa jadi perusahaan dalem negeri yang berkembang, dan kalau bukan sama anak negerinya, sama siapa lagi dia berkembang? heup ah.
Katanya ada beberapa hal ya yang diinget, tapi inget satu hal aja jadi kemana-mana ekornya. Mari disambung lain kali deh.
11 Maret 2014
Eksperimen Dompet Sekat
Ngeliat postingan gambar accordion wallet di pinterest, sungguh hati ini tertarik. Tapi saya cari cari pola gratisannya gak ada. Heu, iya masih pengen yang gratisan dulu, walau katanya there is no delicious lunch for free. Jadi berakhir dengan proses : memandangi, mengamati, membuat pola, dan eksekusi. Karena judulnya mencoba pertama kali, pasti hasilnya ga se delicious yang kalau bikin dari pola udah jadi. Karena kalau dari banyak orang, biasany urutan pengerjaan udah sekaligus dijelaskan, jadi pengerjaan akan lebih efektif. Nah yang ini, grong banget lah. Pas udah tinggal dikit lagi mau selesai, tiba-tiba keluar pernyataan kaget "lah, ini mestinya kan dijait dulu bagian bawahnya", "ini kan mestinya dilipet dulu baru digabung", dan pernyataan macem lainnya. Tapi saya makin seneng dengan proses begini, ini artinya saya belajar sambil melakukan, bisa nemu titik kesalahanny ada dimana, sehingga harusnya pas di episode berikut, kesalaham tersebut tidak akan terjadi lagi. Dengan gini saya bisa mencari cara sendiri biar apa yang harusnya dikerjakan terlebih dahulu biar efektif.
Begini penampakannya
07 Maret 2014
(Another) Tote Bag for Farewell Gift
Assalamu'alaikum
Kembali dengan cerita yang ga jauh dari ngisengin si mesin jait baru, hehehe. Jadi ceritanya hari Kamis lalu, saya mampir ke toko kerajinan segala ada yang bernama Yuzawaya. Pecinta kerajinan, pasti pada tau semua toko ini. Tokonya hampir menyebar di seluruh Jepang. Kebetulan toko ini ga begitu jauh dari tempat saya tinggal, berlokasi di dekat Stasiun Urawa, dari rumah cukup 30 menit naik bis, jalan 5 menit dari halte, langsung sampe deh. Tempat ini, salah satu tempat yang bikin saya kalap. Sungguh, pengen beli semua barang yang lucu, walaupun gatau mau diapain pada akhirnya. Hehehehe.. Sekitar dua jam saya keliling-keliling di tempat kain, sampe akhirnya memutuskan memilih kain-kain yang ada di foto dan beberapa barang pendukung lainnya (Sebenernya masih pengen keliling cuci mata, tapi tiba-tiba mimisan karna suhu ruangan yang panas banget).
Mahal gak? Ya standar Indonesia ya mahal, tapi standar di Jepang biasa aja, yang lebih mahal banyak. Selain kain hijau motif rumah yang panjangnya 1 m, panjang kain lain hanya 50 cm saja, dan saya pilih motif motif itu karena diskon. Hehehe, ketauan ya, pengen beli tap belum mampu beli yang harga normal. Tapi yang diskonan juga ga kalah bagus- bagusnya kok. Kalo ada yang murah dan bagus kenapa engga?
Dua diantara itu berbahan katun, dan dua lagi nya berbahan canvas. Mau bahan lain? Tinggal milih sambil merem di Yuzawaya mah...hihihihi.
Belum tau bakal bikin apa ajah, tunggu wejangan dulu dateng.
Eh tapi udah ada deng, yang hari ini dibuat, jeng jeeeeeeengggg.....
Tote bag (lagi) buat isteri kawan suami yang mau pulang ke negaranya. Saya sih suka kombinasi warna biru dan coklatnya, walaupun saya akui ukuran tasnya ada yang kurang proporsional. Semoga orang yang dikasih nya juga suka ya.. :)
Di update lagi..
Dan di akhir pekan ini, bikin tas lagi. Kali ini rencananya akan dikasihkan ke saudara saya yang lagi maen ke Jepang. Dia udah direpotin untuk bawa kopi susu instan sama teh tarik dari Indonesia sana, jadi sebagai okawari - sebagai gantinya, saya bikin tas buat dia. Mudah mudahn berkenan :) .
Mungkin terlihat membosankan ya, tiap yang dibikin tas lagi tas lagi.. Tapi, karena ada aja yang bedanya dari setiap yang dibikin, jadi sampe sekarang belum bosen kok. Hehehe. (Judulnya mau nyoba semua contoh tas yang ada di majalah)
Langganan:
Postingan (Atom)







