24 Maret 2013

Kado dr Cici

Senyam senyum di pagi hari di hari senin..
Namany Cici, yang sedari tadi udah curi curi pandang ke arah saya. Sampai akhirnya sambil cengar cengir dia nyamperin dan bilang :

"Bu, ini buat ibu,, maaf ya telat! Ini aku bikin bareng sama ibu aku"

Aahhh...terharu..
Makasih banyak Ciciho..  :)

Found an old photo of him

28 Februari 2013

Dont be sad

Suatu hari saya lelah dan merasa sedih, namun saya kembali disemangati ketika saya berpegang padanya. Ya Allah SWT, terimakasih :)

QS.3:139

18 Februari 2013

Keselamatan diri

Setelah sering mengalami kejadian akibat kecerobohan sendiri, munculah percakapan tentang keselamatan kerja. Katanya, dari teorinya, bahwa pada awalnya berbagai macam kecelakaan terjadi karena si subjek/objek yang terlibat mengabaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kata hatinya. Contoh nih: seseorang mau pulang naek mobil pada saat dini hari, dia sebenernya ngantuk tapi MAKSAIN pulang karena berbagai alasan, yang mungkin terjadi adalah resiko kecelakaan yang lebih besar dibandingkan jika mengurungkan niatnya untuk nyetir dalam keadaan ngantuk. Awalnya saya pikir cuman special case ajah, eh dipikir lebih dalam lagi, ternyata peristiwa merugikan yang saya alami hampir semua berawal dari ketidak yakinnya hati untuk melakukan itu, tapi tetap dipaksakan.

Nah setelah memaksakan kehendak yang ga dipengen, akhirnya niatan pun terlaksana. Orang lain, sebenernya pegang peranan penting disini. Jika dia TAHU resiko seseorang yang mengabaikan suara hati nya, alangkah lebih baik memberi dukungan untuk tidak melakukannya. Tapi kebanyak orang, walaupun tahu, malah mengabaikan. Karena dianggap itu adalah keputusan sesorang dan ga ada urusan dengan orang tersebut. Ataupun kalau skalanya lebih besar, peringatan dari orang lain ga pernah diberikan karena khawatir akan ada kerugian yang mereka hadapin, namun sebenernya kerugian yang mereka khawatirkan lebih kecil dari kerugian yang menunggu di depan sana.

Contohnya begini deh, misalnya ada tukang bangunan lagi bangun rumah, ternyata pas bikin tembok, ada bagian yang retak, si tukang (dan mungkin teman2nya pun) itu tahu bahwa hal itu harusnya dibenerin. Tapi kalau dia cerita bahwa ada bagian yang retak maka dia mungkin akan mengulang kerjaannya which means waktu dan biaya akan keluar lebih. Akhirnya si tukang mikir lebih baik, coba nutupin kesalahannya dengan coba mlester si tembok biar ga keliatan. Pas udah jadi, ternyata si tembok dapet tekanan dan blassssttt runtuhlah si tembok itu (ini cuma contoh, dr segi ilmu nya mgkn saja saya salah).

Pengabaian-pengabaian kecil mungkin keliatan ga penting, tapi sebenarnya itu seperti bola salju. Awalnya hanya individu, lalu diikuti dengan kelompok, lalu diikuti dengan masyarkat yang lebih luas. Dan ketika tingkat pengabaian itu semakin besar, Akibatnya apa? Bencana. Yeah, ini terlepas dari takdir seseorang. Jika kita muslim tentu percaya adanya takdir. Namun sebagai manusia pun kita diperintah untuk memaksimalkan ikhtiar, nah mempedulikan suara hati dan tidak melakukan pengabaian kecil baik untuk diri sendiri maupun orang lain adalah salah satu cara untuk mencapai ikhtiar yang maksimal.

Oiya dan ciri khas nya orang Indonesia itu adalah mengabaikan standar prosedur pekerjaan. Ini bisa dilihat dari sebagian (atau banyak ya) tukang tukang listrik/telepon yang benerin kabel tanpa ada alat pelindung baik di kepala,badan,kaki,tangan. Dengan gagahnya biasanya mereka naik ke atas dengan tangga yang bersandar hanya pada tiang, ga pake helm pula. Dan banyak lah kasus lain yang menunjukkan kurangnya awareness terhadap keselamatan diri.

Nb: thanks to Rga who taught me about this.

08 Januari 2013

diam

tik tok tik tok
apa ini kondisi nyaman? tidak kataku
kita hanya terbantu dari orang orang sekitar kita. itu yang membuat kita nyaman.
tapi ini tidak nyaman untuk aku dan mimpiku. juga kamu dengan mimpimu.
karena aku masih terlalu dini untuk menyebutnya sebuah pencapaian disaat aku baru saja melangkah dari garis start.
namun, sepertinya aku terkurung sesuatu. kondisi ini yang tak sesuai dengan yang telah aku bayangkan. bukan karena takdir menjadikanku seperti ini. tapi lebih keengganan untuk melangkah lebih jauh, keraguan untuk melihat lebih dekat, dan ketakutan untuk memulai sesuati. aku pikir otakku kosong. tidak kosong sepenuhnya, hanya saja otakku ini sudah terprogram (oleh yang lain). belum bisa membuat program sendiri.

ah apa ini. sering kali aku menemukanmu. yang membuatku terhambat untuk bergerak bebas. ada sesuatu yang  memang aku inginkan darimu, tapi sudahlah, aku tau aku tak bisa membuatmu kembali. aku tahu ketika aku sendiri aku tak boleh menjadikanmu sebagai pelarian, karena seharusnyaa sudah tahu kemana aku harus berlari. tapi aku pikir berlari  (kemanapun arahnya) juga bujan kata yang tepat, karena berlari hanya membuat ku melupakan sesaat sesuatu  yang aku khawatirkan. aku sendiri, tak pernah mau memusingkan tentang perasaan sendiri, namun kerap dia datang disaat semua kondisi sekitarku mendukung aku untuk merasakan itu. hahahahhaa..membingungkan sekali.

aku berpikir aku akan bisa melangkah jika aku bisa  membuat diriku nyaman dan tenang terlebih dahulu. namun waktu berlalu dan aku masih dengan kegelisahanku. tak ada sesuatu yang maju, tidak progressif. baik diriku maupun apa yang seharusnya kulakukan.

28 November 2012

Ikhtiar lain

Setelah kebimbangan hampir 3 bulan, kami pun putuskan untuk melakukan tes laparoskopi. Laparoskopi ini dianjurkan oleh dokter karena melihat hasil rontgen HSG saya  yang kurang begitu ok. Kami sendiri tidak begitu kaget, karena riwayat kesehatan saya yang mungkin berpengaruh thd hasil HSG yang kurang baik itu. Namun pilihan untuk laparoskopi menjadi kebimbangan tersendiri. Dari segi biaya yang tidak murah, dan ketakutan dalam diri saya sendiri. Namun, kemudian saya diingatkan oleh si partner, bahwa mungkin ini yang memang seharusnya dilakukan. Ya, saya lupa kalau saya pernah berdoa untuk ditunjukkan jalan terbaik, memohon untuk dibukakan pintu agar semuanya menjadi terang, seterang2nya, dan inilah jalan yang sudah terbuka itu.

Selintas pernah saya berpikir "kok sampe segininya sih saya mau punya anak ajah?", trus ada yang menjawab "lah, kan ikhtiar mah harus maksimal". Toh dipikir-pikir, wajar dong pasangan udah hmpir 3 taun nikah meriksain diri ke dokter, yang ternyata ditemukan kejanggalan dan harus diperiksa lebih dalam lagi. Ya urusan mendapatkan anak atau engga itu mah perkaranya Allah SWT. Yakinkan itu, manusia hanya berusaha.

Tanggal 27 nov kemaren laparoskopi itu dilakukan. Pertama kali dalam hidup saya masuk ruang operasi, menegangkan, titik. Bahkan saking tegangnya, para dokter koas itu sulit menemukan pembuluh darah di tangan saya. Hehehehe.. Masuk ruang operasi, dan gak lama saya tidur. Ga inget apa2 tentang operasinya. Dibius itu melelahkan. Setidaknya itu yang saya rasakan, karena pada saat dibius tuh rasanya seperti mimpi yang bikin fisik ngos2an.

Saya mulai mendengar kalimat "operasinya sudah selsai dan ibu ada d ruang pemulihan". Oke saya sudah sadar, dan mulai menyadari rasa sakit di sekitar perut ini. Mencoba mencari orang yang dikenal, tapi tak ada seorang pun. Berusaha untuk ngomong, tp belum mampu bersuara keras. Tak lama seorang ibu yang sedang menunggu suaminya siuman di kasur sbelah melihat saya dan berusaha memanggil keluarga saya. Mamah pun datang bersama mamah mertua. Mereka langsung antusias cerita tentang proses operasi yang baru saja mereka tonton di ruang dokter.

Ya laparoskopi ini operasi yang menggunakan kamera yang dimasukkan ke dalam perut. Selain kamera ada juga beberapa alat operasi seperti tang (apa atuh ya bahasanya), alat penjepit, ada pemanasnya, dan saya jg ga tau lagi apa aja alatnya. Jadi apa saja yang dilakukan dokter melalui alat-alatnya di dalam perut saya, bisa disaksikan dalam sebuah video.  Si mamah hanya cerita bahwa ujung tuba falopi sebelah kiri saya tertutup rapat, kuncup, ada perlengketan. Normalnya itu merekah, seperti bunga. Kalau yang kanan alhamdulillah masih baik. Lanjutnya, si mamah bercerita bagaimana si dokter melalui perkakasnya mencapit organ2 dalam, mengoreh-ngoreh, mengikis hal2 yang mengganggu, dan berusaha membuka kembali si kuncup yang lengket itu. Kemudian isi rahim ini disiram air, semacam dibersihkan. Subhanallah, teknologi dan ilmu pengetahuan sudah secanggih itu ya. Dan Allah lah Sang Maha Canggih yang menciptakan sistem pada manusia yang begitu rumit.

Perlengketan yang terjadi di ujung tuba falopi kiri, katanya terjadi akibat bekas infeksi oleh bakteri. Dan tidak ada gejala sama sekali yang bisa bikin kita tahu bahwa kita terinfeksi. Kalau saja lebih lama lagi baru dilakukan tindakan, mungkin ada cerita lain lagi, karena hal itu bisa berakibat pada infertilitas.

Ya.. Satu langkah sudah dilakukan. Apakah akan ada cerita berikutnya? Mari kita berserah diri saja pada Allah SWT.