Bismillahirrahmanirrahiim
Dari mana yah? Pokonya hari rabu jam 10 malem, tiba2 ada telpon dari ka rifky, terus dia ngajak apakah saya bisa ikut ke jakarta atau tidak,,,penuh pertimbangan, mengingat hari kamis besoknya saya udah merencanakan agenda ini dan itu. Tapi berdasarkan pertimbangan lebih lanjut, yaudah saya memutuskan ikut ke Jakarta dengan tujuan pabrik Lampu bersama beberapa orang dari B4T dan tentunya Bos kita Bapak Mikra (ini berdasarkan ka rifky di malem dia nelpon). Saya pikir, kapan lagi main2 k pabrik, langka, dan sekalian saya penasaran, gimana sih hasil kerja dari sebuah laboratorium kecil di kampus dan di pusat2 penelitian, kemudian diterapkan dalam sebuah industri yang skala pabrikasinya jauh lebih besar (maklum, anak sains kadi ga banyak terjun ke teknis dan dunia industri). Kamis pagi jam 6.30 pagi kami berangkat, saya telat 30 menit dari jadwal yang disepakati,maklumlah, dadakan dan perjalanan dengan angkot tidak dapat diprediksi dengan baik. Ternyata yang ikut rombongan hanya ber empat : saya, ka rifky, Bu Andrea (B4T), dan seorang supir bernama Pa Mario (nanti saya ceritakan tentang beliau). Berangkatlah kami...
Jadi maksud kepergian kami ke pabrik lampu adalah untuk menguji coba bahan baku lampu yang telah bu Andrea bikin di lab. Bu Andrea adalah pegawai dari B4T yaitu sebuah badan milik pemerintah yang bergerak dalam aplikasi teknologi untuk industri, jadi badan ini membantu industri-industri yang mengalami masalah dan tentu saja berada dibawah Departemen Perindustrian Republik Indonesia. Jadi Bu Andrea ini dapet projek dengan sebuah peusahaan produsen lampu lokal, yaitu mencari bahan baku baru pengganti Merkuri (Hg) yang merupakan bahan pada lampu sebagai penghasil warna putih yang sekarang banyak digunakan. Dengan bekerjasama dengan ITB ini Bu Andrea melakukan penelitiannya, dan hasilnya akan kita coba di pabrik tersebut, jadilah kami berada disana.
Saya baru pertama kali masuk ke pabrik, hmmm....ketiga kali deng, percetakan besar, pabrik pengolahan teh, dan inilah yang ketiga pabrik lampu. Proses pembuatan lampu sendiri terdiri dari: pembentukan tabung, yang tadinya tabung kaca panjang, kemuadian dipanasin dan dibentuk tabung U. Kemudian lanjut ke pengisian bahan baku yang bisa berpendar (disebut nya phosporluminescene—aduh bener ga yah), yaitu material Hg (merkuri – wah bahaya juga tuh ada merkuri nya!untung ga dipake buat muka), yang jika dikenai energi dari panjang gelombang UV akan menghasilkan pendaran cahaya putih – yang kita pakai sebagai penerang ruangan. Kemudian proses berikutnya adalah pembakaran, pembakaran pertama untuk mengeringkan Hg agar menempel dalam tabung, yaa kira2 temperaturnya 100oC lah. Kemudian masuk ke pembakaran kedua sekitar 400oC dmana disini terjadi proses penghilangan binder (perekat antara Hg dan tabung kaca). Proses berikutnya apa yah??hmmm...pembersihan ujung tabung agar sisa Hg yang menempel tidak menjadi pengotor disaat tabung ditutup. Kemudian pemasangan filamen sebagai pemberi energi listrik, pemberian gas argo, kemudian tabung ditutup dan harus dalam keadaan vakum, bersih, diuji cobakan, di pasang dalam dudukan, dikemas, dipasarkan. Ya, kira kiraseperti itulah proses pembuatan lampu di pabrik (semoga masih banyak pertanyaan yah?).
Maksud pembuatan bahan yang kami bawa adalah untuk meunurunkan cost bahan baku, yang selama ini kita gunakan masih impor. Tapi ternyata bahan2 impor tidak hanya pada bahan baku, hampir semua elemen itu ada kandungan impornya, jadi bagaimanapun memang industri ini masih erat berkaitan dengan fluktuasi harga dollar. Bahan yang kami bawa diolah sedemikian rupa, kemuadian diuji untuk dijadikan lampu. Selama proses pembuatan lampu, kami diajak makan siang oleh pemilik pabrik, yang baik hati sekali, ke salah satu tempat makan disana.
Ternyata memang indsutri-industri di kita jarang yang memiliki RnD (bahkan PT.KAI sekalipun), karena mereka pikir dengan adanya RnD cost yang akan dikeluarkan akan banyak sekali, dan hasilnya pun belum tentu dapat langsung diaplikasikan, jadi mereka lebih memilih know how yang mereka adopsi dari negara tetangga untuk kemudian langsung dioperasikan di dalam negeri, yaa...cukup masuk akal alasannya, toh mereka juga masihharus dipusingkan dengan masalah pemasaran, dll. Beda dengan negara-negara yang sudah maju, seperti China, Jepang, Amerika, dlll. Dimana perguruan-perguruan tinggi negeri (saya singkat PT) disana memang dijadikan tempat RnD bagi industri-industri, PT bisa melakukan penelitian dan kemudian hasil penelitian tersebut dijadikan ladang penghasil uang dengan menjual teknologi yang ditemukan. Peran pemerintah tentu sangat membantu dalam kerjasama seperti ini, pemerintah adalah sebagai penyokong dana dalam proses penelitian itu sendiri. Jadi ingat apa yang dikatakan Haru (yang dia dapat dari seorang tokoh yang saya lupa namanya), bahwa tiga komponen yang mesti berperan dalam kemajuan ekonomi yakni ABG (Akademisi, Bussinessman, and Government), dan memang seperti itu yang dilakukan oleh negara-negara yang rakyatnya maju dan ingin terus maju.
Kembali dalam ceritaku...
Akhirnya, setelah penantian yang cukup lama. Hasil dari bahan kami yang dijadikan lampu sudah selesai, dan wakwaw....jauh dari perkiraan, warna lampu yang seharusnya putih ternyata hitam setelah melewati proses pembakaran. Walaupun begitu, ketika dikasih tegangan listrik tetap ada pendaran cahaya dari dalam (Subhanallah...sukoiii). hmmm...masih banyak hal-hal yang tidak terduga jika fabrikasi dalam skala besar dilakukan, treatment yang dikenakan untuk satu bahan belum tentu bisa diterapkan di bahanlain. Masih perlu kerja keras untuk mencapai kesempurnaan, dan prosesnya tidaklah melulu mesti instan. Padahal kalo penelitian ini dijadikan bahan tugas akhir, sampai tahap ini pun rasanya sudah bisa mendapat kelulusan. Karena menemukan komposisi material sajah bukanlah hal yang mudah, cukup menantang kata saya.
Akhirnya kami pulang, dengan perasaan penasaran kenapa sampel yang diuji tidak berhasil, dengan rasa senang melihat penelitian Bu Andrea ternyata memberikan ”cahaya” kecil yang menurutku cahaya ini lama-lama akan membesar.
Sepanjang jalan ke Bandung, hujan besarr, tapi saya bersyukur saya bisa tidur di mobil jadi ga perlu liat kilat yang membelah langit. Di Km 50 an saya terbangun, ngobrol sepanjang jalan dengan Bu Andrea, Ka Rifky, dan Pa Mario. Dan tiba-tiba saja, ka rifky bertanya pada Pa Mario ”Pa, nama panjang bapak apa pak?”. Pertanyaan yang aneh, tapi hal itulah yang ingin aku tanyakan juga. Secara Bapak Mario kalo ngobrol pake bahasa Sunda halus, tapi aneh bagi saya karena orang sunda jarang yang namanya Mario dan karakter mukanya pun menjelaskan dia berasal dari daerah Sumatera, darimanakah dia sebenarnya? Dan saya rasa kenapa ka rifky nanya hal itu juga karena dia pengen mengetahui hal yang sama dengan yang saya pikirkan. Dan ternyata apa yang dijawab Bapak Mario adalah,”Sebenernya nama depan saya Tatang, lengkapnya Tatang Sumaryo”.....krik krik krik....ngakak lah kami berdua. Bapak Mario yang sebenernya ditulis Bapak Maryo merupakan penggalan dari nama Sumaryo, dan dia memang aseli Sumedang. Jelaslah semua keraguanku. Bapak Sumaryo ini berumur 54 tahun, di Januari nanti dia akan pensiun. Dia bercerita mempunyai anak 3 orang, yang satu sudah menikah dan dari satu anaknya yang sudah nikah ini dia punya cucu 6 orang, bayangkan!!jika satu anak menghasilkan 6 cucu, jika 3??18 cucu!!!begitulah guyonan kami padanya. Lalu dia bercerita tentang isterinya yang mengalami Strooke entah di bagian mananya saya lupa. Yang jelas secara fisik, sang isteri masih mampu melakukan aktifitas ringan, tapi dia agak susah mengingat (short term memory kah? Ga separah itu kok!). Pa Maryo ini (udah bener nulisnyah) selalu membantu isterinya, mandi, makan, dll. Dan tiba2 dari mulut ka rifky terdengar sebuah pertanyaan ”Kok bisa ya pak sebaik itu?oh itu yang namanya cinta ya pak?” halah!!!ka rifky ni nanya nya aneh2 sajah...getek dengernya kan! Dan Pa maryo malah menjawab ”Bukan cinta pak, kalo uda tua mah bukan cinta lagi rasanya, sayang....” heu!!! Makin geteklah diriku ini, tapi satu hal yang saya pelajari ternyata sayang sama seseorang membuat kita selalu ingin memberikan yang terbaik buat orang itu. Kita tidak akan merasa direpotkan dengan ujian yang dihadapi dengan orang yang kita sayang, malah sebenernya itu adalah ladang pahala buat kita. Subhanallah.
Perjalanan dengan hujan ternyata memberikan keindahan lain di sorenya. Ketika hampir memasuki Tol Pasteur,hujan telah berhenti, bahkan di area itu tidak ada tanda2 habis hujan. Tiba2 di bagian langit sana ada pelangi yang berwarna warni terlukis menembus awan, tidak hanya satu tapi dua pelangi. Suasana senja berwarna oranye yang saya suka ternyata makin cantik dengan kehadiran pelangi di langit sore. Indah.
Segala puji hanya milik Allah.
waw..gw pengen liat pelangi..di pagi hari..ceria berwarna warni...
BalasHapus